Make your own free website on Tripod.com

Edisi 7
Artikel 1

Home

Daftar Isi
Editorial
Berita Utama
Artikel 1
Artikel 2
Profil
Pendidikan 2
Kesehatan
Liputan Khusus
Humor
Suplemen

 Warna
  

Tadinya saya mau bergaya akademisi kawakan: membuat tulisan tentang laporan progresi aplikasi Turki ke dalam Uni Eropa, lengkap dengan analisa dan prediksinya ke depan. Tapi saya malas ah, terlalu rumit. Nanti malah ujungnya ngelantur kemana-mana. Lagipula, ini  bukan jurnal ilmiah. Jadi saya mau yang santai saja. Saya putuskan untuk berbicara tentang perskhususnya sepak terjang mereka di Turki.

Saya kadang-kadang jenuh membaca koran di sini, walaupun tampilan grafisnya sebenarnya cukup menawan. Bayangkan saja, edisi koran harian di sini memulai ketebalannya dari 30 sampai dengan 50 lembar full-colouryang mestinya dijamin memuaskan dahaga pembaca, mengemas isinya dengan berita yang memenuhi padat setiap baris dan kolomnya, lengkap dengan opini-opini dan analisa para ahli di hampir setiap bidang kehidupan. Dijamin ampuh untuk mengisi waktu perjalanan Anda, baik dalam metro maupun bus antarkota, jika Anda paham bahasa Turki, tentunya.

Lalu ada apa dengan media Turki? Anda mungkin bertanya. Untuk menjawabnya, lebih dulu saya bawa Anda sejenak melewati lorong-lorong teoritis tentang topik ini. Sekedar panduan, supaya tidak kehilangan arah.

Anda tentu mahfum bahwa seperti halnya partai-partai politik, peran pentingnya media berkaitan erat dengan liberalisasi historis politik dan partisipasi massa. Pada era modern saat ini, sulit membayangkan politik dapat berjalan dengan gagah tanpa dipandu oleh media.

Dan jika Anda masih ingat pula, era politik modern disulut oleh Revolusi Prancisrevolusi yang membuka jalan bagi partisipasi politik yang terbuka bagi rakyat banyak. Ketika itu, seiring dengan terangnya nyala suluh pendidikan rakyat, penerbitan-penerbitan utama mulai menerbitkan koran-koran stensilan yang dapat dilahap rakyat dengan murah. Perlahan namun pasti, semakin sulit bagi penguasa untuk mencegah rakyat tahu apa yang terjadi di sekitar mereka. Singkat cerita, oleh kemunculan koran-koran rakyat inilah misteri antara kekuatan dan kekuasaan tersibak, serta mendorong rakyat ikut serta menentukan gerak laju negara.

Lihat misalnya yang terjadi pada abad ke-19, khususnya di Eropa dan Britania Raya. Media menjadi ancaman serius untuk pemerintahan kapitalis. Semua kelompok kepentingan dan partai politik dapat dengan bebas mensosialisasikan pemikiran-pemikirannya lewat koran-koran yang dicetak murah, yang membuka kesempatan bagi kelas pekerja untuk dapat membaca dan tahu apa yang sedang terjadi. Reaksi dari pemerintahyang jengah atas partisipasi popular dan tuntutan demokrasi semacam iniadalah memakai kekuatan untuk melibas, dan bahkan, membunuh media. Para editor ditangkapi, dilemparkan ke penjara, atau dibuang ke dataran asing.

Namun seperti kita tahu, pada titik tertentu, kekuatan juga rebah oleh benteng keyakinan. Pemerintah tidak selamanya dapat membungkam media dengan kekerasan: melibas koran-koran, meremukkan pers, atau melempar para editor dan wartawan ke sel-sel suram atau ke seberang lautan. Cara lebih halus yang kini diterapkan penguasa adalah dengan mengontrol denyut nadi dan nafas pers itu sendiri. Misalnya dengan memastikan bahwa pers yang berpengaruh dikuasai dan dijalankan oleh big business, yang kepentingannya adalah, sebagian besar, mewakili penguasa.

Pendekatan ini ini mampu menggiring pers untuk menerbitkan berita-berita yang sejalan dengan yang diinginkan penguasa. Memang, masih ada media-media kecil yang bertebaran di sepanjang jalan, namun umumnya mereka ini sedemikian kecil dan lusuhnya sehingga tidak punya arti penting dalam pembentukan opini publik. Upaya pengendalian ini tidak akan mulus tanpa adanya peranan pasar (market),  yang menjadi alat ampuh untuk membungkam mereka-mereka yang gemar menghardik penguasa. Pasar membuat media di hari-hari ini menjadi mesin bisnis raksasa yang menghasilkan uang. Dan kenyataan ini akan terus terakselerasi seiring dengan tumbuhnya kapitalismesebagai sebuah siluet klasik negara-negara yang memasuki pasar kapitalisme global. Ide utama media di sini bukan lagi untuk memberikan pemahaman politik bagi rakyat, melainkan menghibur mereka lewat nyanyian-nyanyian mimpi, selain, tentu saja, menumpuk uang. Tujuan akhir media menjadi kontra-produktif dan memalukan: mengendalikan, untuk kemudian menumpulkan, daya kritis rakyat, yang lebih memilih berkutat di halaman-halaman olahraga dan gosip selebritiyang penuh warna dan gambar!

Pada titik inilah krisis demokrasi meruyak realitas kehidupan. Krisis demokrasidalam konsep modern politiktidak terjadi ketika terlalu sedikit ruang demokrasi yang tersedia, melainkan ketika ruang demokrasi terbuka lapang dan semuanya bebas berlarian mengejar kepentingannya. Dan akibat terlalu banyaknya perbedaan kepentingan, maka benturan-benturan antar rakyat, rakyat dengan penguasa, pun saling terjadi. Di sinilah dilema terjadi: di satu sisi rakyat perlu menikmati lapang dan luasnya ruang demokrasi, sementara di lain pihak penguasa harus mengatur pergerakan rakyat agar tidak saling berbenturan. Kecermatan, kepekaan, dan political skill penguasa akan sangat teruji dalam menakar sejauh mana kebebasan dan kendali harus diramu dalam formulasi-formulasi kebijakannya.

Kembali tentang media di Turki. Pernahkah Anda memperhatikan bahwa sedikit sekaliuntuk tidak mengatakannya tidak adajumlah tabloid yang mengkhususkan diri dalam berita-berita gosip, wanita, dan selebriti? Katakanlah semacam Nova, Wanita Indonesia, atau Monitor di Jakarta. Tabloid-tabloid semacam ini tidak populer di media Turki karena berita-beritanya sudah terwakili oleh koran-koran harian! Jika Anda rajin menyimaknya, Anda akan melihat bahwa pada hakikatnya isi koran-koran utama di sini tidak lain dari racikan 30 mg politik (isu-isu aktual, opini), 30 mg olahraga (dalam kolom-kolom besar penuh warna bak billboard), 20 mg gosip (siapa-yang-sedang-pacaran-dengan-siapa, and all these kind of stuffs), 15 mg iklan dan teka-teki silang, ditambah 5 mg sisanya untuk eksploitasi gambar semi-nude wanita, yang memang kelihatannya secara alami manjur untuk meningkatkan tiras jual!

Saya tidak ingin berprasangka, namun sukar rasanya untuk tidak mengakui bahwa media memainkan peran yang janggal di alam demokrasi Turki. Media di sini penuh warna (dengan headlines ukuran XL yang panas), menghentak-hentak; dan amat riuh bunyinya. Terasa benar perbedaannya ketika saya membandingkannya dengan koran-koran besar di Indonesiayang anehnya tidak seperti hal-hal lainnya di negara kitayang menurut saya lebih matang dan cermat. Sekedar untuk memperjelas gambaran, kebanyakan media di Turki saya kira adalah versi yang lebih bergaya (karena mutu kertas dan grafisnya) dari koran-koran kelas ojek di Indonesia, yang dibeli hanya untuk melihat iklannya jika Anda ingin menjual atau membeli otomotif bekas.

Syukurlah ada kecenderungan kini bagi koran-koran yang tergolong serius dan matang untuk mulai mengisi news-stand di kios-kios Turki. Media-media yang cukup cermat untuk, misalnya, tidak mencampur-adukkan antara berita (hard-news) dengan opini, antara opini dengan prasangka, serta mengisinya dengan rubrik-rubrik entertainment yang lebih berkelas ketimbang sekedar menyodorkan lekuk tubuh seorang gadis model.

Lihat saja misalnya liputan tragedi 911 di New York, tempo hari. Salah satu koran besar Turki (yang anehnya mengusung nama Inggris) tidak tanggung-tanggung menyediakan slot dua halaman mukanya untuk peringatan ini. Namun Anda bisa kecele jika mengharapkan laporan yang seriusmisalnya bagaimana pengaruh setahun terjadinya tragedi itu terhadap warga Turki di AS, atau analisa ringan penyebab tragedi itu sendiridi sana. Dihiasi oleh foto model setengah telanjang yang menyunggingkan senyuman nakal di sebuah pantai, laporan itu memuat berita kunjungan para artis selebriti Turki ke New York dalam rangka ikut mengenang tragedi kemanusiaan 911. Dan agar lebih hot, laporan yang ditulis warna-warni itu diberi judul besar: Polis ve tfaiyeyi Öptüler.  Wah!

 Zulhendri Abdullah

Mahasiswa S2 Program MBA, Universitas Marmara, Istanbul