Make your own free website on Tripod.com

Edisi 7
Profil

Home

Daftar Isi
Editorial
Berita Utama
Artikel 1
Artikel 2
Profil
Pendidikan 2
Kesehatan
Liputan Khusus
Humor
Suplemen

pur.jpg
 

Purnomo Ahmad Chandra (Pungky)

"Masuk Sul", kata Pak Pur mempersilakankan kru PPI masuk rumahnya yang lumayan berantakan, penuh dengan kardus dan barang yang akan masuk kontainer nanti.

"Langsung aja", ujar Pak Pur lagi memberi kode yang hanya dipahami oleh anak-anak PPI, yang artinya mempersilakan mengambil makanan sendiri di dapur.

Walaupun jam sudah larut malam, Pak Pur masih berkutat di depan komputernya. Kru PPI jadi teringat ketika dulu datang kemari larut malam seperi ini, dua orang putra Pak pur menyambut di pintu. Om Sulama, teriak Raihan sambil loncat-loncat, dan  Hakam yang segera menarikku untuk main play station 2 di kamarnya.

Berbeda dengan biasanya, kali ini rasanya berat datang ke rumah Pak Pur. Bukan apa-apa, kedatangan kali ini mendapat tugas untuk mewancarai profile Pak Pur menjelang kepulangannya ke Indonesia tanggal 2 Juni nanti. Apes emang, kalau tulisanku yang dulu ditolak redaksi,  sekarang malah dipercayakan untuk tugas yang lebih berat - menulis perpisahan seorang sahabat. 

Memang sedih dan berat rasanya, kalau PPI kehilangan sahabat yang enak, damai, menyenangkan  kalau diajak ngobrol, bercanda hayuh-seriuspun hayuh, nggak perhitungan, dan gaul lagi - nggak rikuh ngobrol dengannya. Nggak heran doi banyak temennya, dan rumahnya menjadi pilihan markas kumpulnya anak-anak kalau ada kegiatan PPI di Ankara.

Ketika kru PPI mengutarakan maksud dan tujuan, doi cuma ketawa-ketiwi meledek,  sepertinya Indonesia sudah  didepan matanya saja. Berikut petikan wawancara dengan beliau:

Sule : Bapak kapan dilahirkan, dimana? Pak Pur : Februari, 1967 di Jakarta (sambil mengaruk-garuk kepala mungkin mengira pertanyaanku berikutnya bakalan seperti pertanyaan dalam sensus penduduk).

Sule : Kuliahnya dimana jurusan apa pak? Angkatan berapa? Pak Pur : Di Fakultas Hukum Trisakti jurusan Hukum Internasional angkatan 85.

Sule : Bagaimanabisa tertarik dengan Hukum Internasional? Pak Pur terdiam sesaat - memusatkan pikiran untuk menemukan jawabannya. Kini giliranku tertawa dalam hati? Tidak lama kemudian nampaknya doi menemukan jawabannya. Pak Pur : Karena nanti trendnya, di era globalisasi hubungan setiap negara diatur dalam hukum yang namanya Hukum Internasional. Dari masalah yang kecil  seperti masalah penjualan kaset rekaman lagu atau film sampai masalah yang besar seperti penentuan batas wilayah sebuah negara.

Sule : Kapan masuk Deplu? Pak Pur : 1990

Sule : Trus gimana Pak? Pak Pur : Setelah pendidikan sekdilu (Sekolah Pendidikan Dinas Luar Negeri), sempet kerja kerja sebentar. Kemudian atas beasiswa Bank Dunia melanjutkan  sekolah S2 di George Washington University dan Amerika University jurusan Hukum Internasional dan Economic Institute di Colorado University selama 2,5 tahun.

Sule : Ceritanya bisa tertarik masuk Deplu gimana Pak? Pak Pur : Aku senang travelling, melihat budaya negara lain yang berbeda.

Sule : Gimana ceritanya ketemu sama Bu Runi Purnomo? Pak Pur : Tahun 1986 di UI. Waktu itu Runi belum masuk Unpad dan kita ketemu ketika sama-sama ngambil program bahasa Jepang di UI.  Tahun 87 kita jadi pacaran dan Runi diterima di Fakultas Sastra Jepang Universitas Pajaran. Tahun 1992 kita menikah. Kemudian dikaruniai dua orang anak Hakam Adi Nugroho  9 thn dan Raihan Abdurahman 6 thn.

Sule : Bagaimana Pak Pur melihat keberadaan PPI di Turki? Pak Pur : Keept Exist Walaupun keberadaan PPI sedikit jumlahnya, tetapi dengan potensi sumber daya, flexibilitas manusianya serta dukungan masyarakat bukan tidak mungkin PPI dapat mengadakan simposium  mengundang PPI di negara-negara sekitar Turki.

Sule : Udahan ya Pak.  Pak Pur : Udah Sul wawancaranya?, Maen bowling Yuk!!

Aku jadi mengenang, ketika PPI diikutsertakan dalam penyusunan perpustakaan oleh KBRI, dan kegiatan menjamu para tamu KBRI di Istanbul. Dan banyak lagi kenangan yang terekam di kepalaku tentang kebersamaan kami, anak-anak PPI bersama Pak Purnomo.

Akhir kata, anak-anak PPI menilai Pak Pur berhasil menjembatani hubungan baik antara PPI dan KBRI, serta mampu  mengadakan pendekatan terhadap personil-PPI melalui sikap merakyat yang ditunjukkannya. Selamat jalan Sahabat, semoga tali silaturahmi akan tetap terjalin diantara kita.

Sulama Karta Ijaya, Sarjana Sosiologi