Make your own free website on Tripod.com

Edisi 1
Artikel

Home

Daftar Isi
Redaksi
Berita Utama
Artikel
Profil
Interview
Kesehatan
Humor

bluemosque.jpg
MEHMET II SANG PENAKLUK
 

Istanbul sebagai tempat strategis dengan letak geografisnya di perbatasan dua benua Eropa dan Asia merupakan kota penghubung arus perdagangan melalui selat Bosphorusnya. Bukan saja kota tersebut dijadikan ibukota dan pusat kerajaan Romawi bagian timur atau Byzantine dengan nama  Constatinople tetapi juga menjadi ibukota pada awal, puncak dan akhir kejayaan kerajaan Ottoman.        

Dalam proses perjalanan sejarah,  tempat, waktu dan individu yang melatar belakangi berdiri dan runtuhnya suatu peradaban adalah merupakan syarat mutlak. Mehmet II adalah tokoh besar Kerajaan Ottoman. Tuhan adalah penentu waktu, tempat dan Individu. Adalah peran Tuhan untuk menentukan dimana, kapan dan siapa tokoh besar dibalik lahirnya suatu peradaban. Atau dengan kata lain Mehmet II adalah individu pilihan Tuhan yang lahir  tepat pada zaman dan lokasinya. Individu seperti Constantine dan Mehmet II dapat dikatakan sebagai individu yang memiliki kekuatan supernatural dengan seperangkat karakteristik yang berbeda dengan orang biasa pada saat itu.

Istanbul adalah ibu kota Kerajaan Usmani yang ketiga dan terakhir. Penaklukan Istanbul adalah momentum penting  karena merupakan kunci sukses  kerajaan Islam untuk memimpin dunia pada saat itu.  Cita-citanya untuk membangun peradaban Islam direalisasikannya dengan menciptakan Istanbul sebagai kota  yang Universal.  

Tepatnya Jumat pagi tanggal 29 Juni 1453,  pasukan Ottoman dibawah pimpinan sultan  Mehmet yang  masih        berusia    21     tahun,      menerobos benteng pertahanan kerajaan Constantinople. Menandai hari penaklukannya tersebut, Mehmet II mengadakan sholat Jumat di Gereja Aya Sophia yang  dirubahnya menjadi Masjid.

Sultan Mehmet II sadar  bahwa untuk membangun dan menghidupkan kembali  kota impiannya yaitu sebuah kota metropolis yang universal, diperlukan bangunan monumental selain juga demography dan tatanan sosial, budaya dan ekonomi yang maju. Pandangan luasnya tersebut  tercermin pada kata-katanya ketika Ia mendapatkan laporan bahwa pasukannya merusak bekas peninggalan kerajaan Constantine. Sambil mencabut pedang Mehmet II berkata Semua yang ada di sini adalah milikku, barang siapa merusaknya maka akan berhadapan denganku .        

Kebijaksanaannya tercermin pada keputusan Mehmet II untuk membebaskan semua tawanan perang dan menyediakan rumah dan fasilitas kerja bagi mereka. Lebih dari pada itu Mehmet II mengajak pihak terjajah yang telah melarikan diri untuk kembali ke Istanbul dengan janji memberikan hak-hak mereka yang telah didapatkan sebelumnya, termasuk memberikan penggantian bila terdapat kerugian  harta benda akibat penaklukannya tersebut.

Langkah kebijaksanaan berikutnya adalah memerintahkan gubernur-gubernur dari berbagai propinsi di Rumeli ( wilayah Ottoman di bagian benua Eropa ) dan di Anatolia ( wilayah Ottoman di bagian benua Asia ), untuk mengirimkan 4 ribu keluarga ke Istanbul, dengan catatan bahwa diantara mereka harus ada yang ahli agama, ahli berdagang, dan orang kaya.

Lebih dari itu, Mehmet II sendiri terkadang harus  pergi ke propinsi-propinsi yang maju untuk merekrut sendiri orang-orang yang dipilihnya untuk datang ke Istanbul. Proses Demograsi ini mengawali system menghidupkan kembali kota Istanbul.    Mehmet II memberikan jaminan bahwa setiap penduduk Istanbul mendapatkan hak kebebasan beragama yang sama. Tidak ada paksaan bagi non-muslim untuk masuk Islam. Pihak kerajaan pun mengakui adanya pemimpin agama seperti pendeta dan Imam dan menunjuk mereka sebagai wakil umat masing-masing. Meski mereka tinggal dengan komunitasnya, toleransi dan kerukunan beragama terjaga dan dilindungi oleh kerajaan.  

Perkawinan antar agama pun diijinkan tanpa harus mensyaratkan pihak perempuan masuk Islam lebih dulu, hal ini dengan catatan anak-anak mereka harus menjadi muslim. Non-muslim diijinkan mengatur tempat peribadatannya dengan syarat  tidak  mendirikan tempat peribadatan  baru dan berdakwah kepada penganut agama lain.  Mayoritas non muslim  menetap dalam komunitasnya di Galata dan  Pera (sekarang Beyoglu). Bagi mereka hanya dikenakan kewajiban membayar pajak (haraj).   

Untuk  layanan sosial dan ekonomi,  Mehmet II mendirikan imaret (pusat urban yang dikelola oleh vakif atau  yayasan). Imaret adalah sebuah komplex institusi dimana dibangun masjid yang dikelilingi fasilitas pelayanan sosial seperti madrasah, hotel, perpustakaan, rumah mandi (Hamam, Turkish bath) dan rumah sakit.

Disekitar masjid didirikan pula bedestan, yaitu sebuah gedung beratap batu dan dilengkapi dengan jendela besi yang berfungsi untuk menyimpan barang berharga, milik pribadi maupun umum. Bedestan dibawah management Vakif, tapi dalam masalah keamanannya dibawah pengawasan kerajaan. 

Vakif adalah institusi yang independent dalam operasinya. Sebuah vakif dianggap sah apabila  tujuan, program kerja,  dan peraturan vakif tersebut terdaftar di kantor pemerintahan. Grand Bazaar yang sekarang menjadi shopping center dan menampung 4.400 toko adalah salah satu contoh bentuk bedestan yang berada di lokasi imaret dengan masjid Nuru Osmaniye sebagai centrenya.  

Mengawali berdirinya imaret, Mehmet II memerintahkan high official kerajaan seperti para vazier, para noble dan pengusaha kaya untuk mendirikan vakif dan membangun imaret-imaret di tempat-tempat lain seperti di Ayyub yang terletak dipinggir teluk Golden Horn, Istanbul.

Vakif dalam manajemen operasionalnya memiliki struktur  dimana  mutevelli adalah kepala vakif yang bertanggung jawab atas jalannya vakif.  Dipilih dari pengusaha-pengusaha  senior, mutevelli bertanggung jawab atas segala urusan vakif seperti menentukan kebijaksanaan mengumpulkan dan mengembangkan income, mengatur pembiayaan vakif membayar para pekerja  dan  menentukan pajak yang harus disetorkan kepada pihak  kerajaan. 

Mutevelli dibantu oleh yigitbasi yang bertugas khusus untuk mengatur urusan dalam vakif seperti membeli barang yang dipasarkan oleh anggota vakif dan meneliti kwalitas barang yang sesuai dengan standar vakif. Yigitbasi dibantu oleh ehl-i hibre yaitu tenaga ahli dalam meneliti kwalitas kontrol barang dagang. 

Untuk masalah fixing price dan peraturan lainnya ditetapkan oleh muhtesib. Jalannya kegiatan operasional vakif  berada dibawah pengawasan nazir yang ditunjuk oleh pihak kerajaan untuk mengawasi mutevelli. Selanjutnya Nazir  mengumpulkan para pegawai, mutevelli dan pihak kerajaan untuk mendengarkan pernyataan-pernyataan para pegawai vakif atas kerja mutevelli. Mehmet II juga membangun fasilitas sosial dan ekonomi sebagai sarana menuju kota  metropolis.        

Selain itu, Sultan Mehmet II juga menjalin hubungan dagang dengan Florentine, dengan  mengijinkan para pengusaha Florentine tersebut untuk datang dan menetap Istanbul. Mereka tinggal  berkelompok dengan orang-orang kebangsaan eropa dalam satu komunitas di Galata. Selain aktif dalam kegiatan eksport dan import antara Istanbul dan Florentine mereka aktif juga dalam kegiatan perdagangan dengan negara-negara lainnya di Eropa.   

Para sejarawan sepakat menjuluki Mehmet II, Sang Penakluk sebagai tokoh besar yang menciptakan Istanbul. Karena dia telah memulai langkah-langkah membangun Istanbul dari kota mati menjadi hidup kembali.  

Miftahus Surur

Mahasiswa Sejarah Universitas Bogazici