Make your own free website on Tripod.com

Edisi 2
Artikel

Home

Daftar Isi
Redaksi
Berita Utama
Artikel
Interview
Kesehatan
Suplemen 1
Suplemen 2
Humor

otoman.jpg
Wilayah Kekuasaan Otoman Empire
KONSEP KEKUASAAN OTOMAN EMPIRE
 

Kerajaan Usmani lahir menjadi kerajaan Islam yang terakhir dalam sejarah peradaban Islam atau peradaban timur. Kerajaan ini bersifat dinasti yang didirikan pada akhir abad 13M Oleh  Usman  putra Ertugrul, seorang panglima pasukan kerajaan Seljuk. Pada masa pembentukan (formative), Raja Usman mengadopsi sebuah ideology jihad dalam usahanya memperluas kekuasaan sehingga wilayah peradaban Islam mampu memimpin dunia. Jihad yang diartikan oleh Usman adalah perang demi agama Islam dan menjadikan Islam agama yang mampu menguasai dan mengatur seluruh kehidupan  ummat sedunia.

Dinasti Usmani mengidentikkan jihad  dengan istilah Ghaza, perang suci. Dari istilah inilah raja-raja masa awal lahirnya Usmani atau masa formative  mendapat julukan Ghazi yaitu pemimpin Ghaza. Julukan ini disandang oleh raja-raja pada masa awal kekuasaan Usmani   sampai pada masa  solidasi dan pembangunan  kerajaan Usmani.

Setelah dirasa pentingnya memperhatikan masalah-masalah domestik guna menjaga keseimbangan kekuasaan, dengan mempertimbangkan cukup jauhnya wilayah yang telah dikuasai, konsep kekuasaan ditekankan pada konsep keadilan. Keadilan disini diartikan sebagai melindungi rakyak dari kesewenang-wenangan para pegawai dan pejabat kerajaan khususnya pada masalah penarikan pajak. Kerajaan Usmani menganggap bahwa keadilan adalah tonggak yang bisa menjamin tetap berdirinya pilar-pilar kekuasaan. Ketika keadilan sudah tidak terjaga lagi, keseimbangan akan goyah dan ketika itu kehancuran tidak dapat dihindari. Dalam menjalankan konsep keadilan, didirikanlah badan khusus dengan nama Imperial council yang bertanggungjawab langsung kepada raja. Disamping badan ini, kerajaan juga menyusun perundang-undangan mengenai keadilan yang disebut adaletname. Imperial council  bertindak khusus untuk mengadili para pegawai dan pejabat yang melanggar UU. Melalui badan ini rakyat berhak melaporkan kesewenang-wenangan pelaksana kekuasaan sehingga tax farming (pemungutan pajak liar)  yang sebelumnya menjadi kebiasaan bisa dikendalikan.

Terkadang raja sendiri menyelidiki jalannya konsep keadilan dengan cara menyamar sebagai rakyat biasa, atau dalam setiap berburu raja selalu bersedia ditemui oleh rakyat untuk mendengarkan keluhan-keluhan baik secara langsung ataupun lewat  pembantu raja. Perhatian yang sedemikian besar atas jalannya keadilan tidak memberikan celah bagi para pelaksana kekuasaan untuk bertindak di luar jalur hukum.

Propinsi-propinsi yang letaknya jauh dari pusat kerajaan sekalipun bisa dikendalikan dengan konsep keadilan melalui kekuasaan qodhi dan agent-agent raja yang dikirim secara rahasia untuk menyelidiki dan melaporkan jalannya kekuasaan kepada raja. Keluhan atau dakwaan rakyat atas pelanggaran yang dilakukan pegawai atau pejabat kerajaan akan diselidiki dan kemudian diputuskan. Apabila terbukti bersalah hukuman paling berat adalah hukuman mati. Hukuman ini  ditegakkan tanpa memandang jabatan, bahkan seorang wazir ( menteri ) sekalipun kalau bersalah bisa menghadapi hukuman mati.

Pada masa kekuasaan Mehmet II usaha untuk menjaga keseimbangan kekuasaan, disamping konsep keadilan,  diwujudkan dengan sistem devsirme, sebuah sistem perekrutan anak-anak dari keluarga non muslim yang umumnya berasal dari wilayah Rumeli ( wilayah kekuasaan kerajaan Usmani bagian barat dari batas selat Bosphorus ). Mehmet II mencetuskan ide ini dengan maksud untuk mempersiapkan pegawai-pegawai kerajaan yang mempunyai loyalitas tinggi pada raja dan bertindak hanya untuk kerajaan tanpa ada kepentingan-kepentingan lain yang mempengaruhinya.   Memet II merekrut anak-anak pilihan yang disiapkan untuk menerima training khusus yang meliputi ketatanegaraan, moral dan  etika serta ilmu-ilmu agama Islam. Mereka mendapatkan prioritas dengan ditempatkan di wilayah khusus raja dalam istana dimana hanya orang-orang tertentu yang sudah mendapatkan izin khusus dari raja bisa diperbolehkan masuk ke wilayah tersebut.

Anak-anak yang direkrut adalah anak-anak non muslim yang berumur sekitar 8 tahun. Mereka masuk ke sekolah pelatihan dan kemudian masuk Islam. Dengan menjadi muslim hubungan dengan keluarganya terbatasi. Dan dikarenakan doktrin-doktrin agama yang telah ditanamkan kepada mereka, akhirnya kepentingan agama selalu didahulukan. Mereka berasal dari wilayah rumeli yang mempunyai akar budaya, kultur dan kesukuan yang berbeda dari orang-orang Turki, namun selama pelatihan mereka diberi pelajaran tentang kultur, bahasa, dan budaya bangsa Turki sehingga akhirnya mereka terbentuk menjadi orang-orang Turki baru yang siap mempertahankan kekuasaan bangsa Turki. Mereka juga dididik untuk selalu loyal kepada raja sehingga ditumbuhkan pada mereka suatu kepercayaan bahwa To fight to death for the sake of sultan is an honor (mati demi raja adalah sebuah kehormatan).

Setelah melalui masa-masa pelatihan, mereka diuji terlebih dahulu sebelum mendapatkan jabatan. Bagi yang lulus dengan predikat baik diberi jabatan wazir yang dibawahi oleh Grand Wazir. Bagi yang lulus dengan predikat sedang ditempatkan di badan intelligent yang disebut Janissari. Diantara mereka ada yang ditempatkan pada propinsi-propinsi untuk menjabat sebagai gubernur. Memet II dan raja-raja sesudahnya sengaja menempatkan para gubernur dari anak-anak didikan devsirme dengan pertimbangan bahwa mereka tidak mempunyai ikatan kedaerahan dan kekeluargaan sehingga konspirasi untuk memberontak adalah kemungkinan yang tidak perlu dihawatirkan.Devsirme adalah sebuah sistem yang dipakai sebagai alat memperkuat kekuasaan, juga menjaga keseimbangan kekuasaan. Ketika keadilaan sudah terjaga maka setiap individu dalam kekuasaan  Usmani berada pada tempat masing-masing dan bertindak sesuai dengan keadaannya sendiri.

Sejarawan mencatat bahwa salah satu faktor yang mendorong jatuhnya kekuasaan Usmani adalah lemahnya konsep keadilan dan dihapuskannya sistem devsirme. Mungkin fenomena ini sudah menjadi ketentuan Tuhan bahwa manusia itu lemah, kalaupun ia mampu mencapai kemajuan yang tinggi maka akan turun setelah sampai pada titik tertentu. Setiap masa menciptakan sejarahnya sendiri, Lets make our history be proud of us. 

Miftahus Surur

Mahasiswa jurusan Sejarah, Universitas Bogazici