Make your own free website on Tripod.com

Edisi 3
Berita Utama

Home

Daftar Isi
Redaksi
Berita Utama
Lanjutan Berita
Artikel 1
Artikel 2
Interview
Liputan Khusus
Kesehatan
Humor

Sebuah Kasus Perkawinan Indonesia-Turki

Sebuah kasus yang terjadi bulan Agustus 2001 di Ankara menjadi berita yang hangat dan aktual dalam sebuah majalah wanita Kartini dan surat kabar Jawa Pos. Kasus yang melibatkan personil-personil PPI, diantaranya Sdr. Miftah, Sulama dan Ratih tersebut menambah panjang daftar terjadinya kasus perkawinan pasangan Indonesia-Turki.

Kasus yang terjadi pada bulan Agustus tersebut memang pantas diliput dan dijadikan pelajaran bagi orang Indonesia, terutama yang ingin menikah dengan pria Turki. Pernah saking kesalnya Mbak Nur (Mantan Mahasiswi Turki) melontarkan parodi kalau dirinya ingin menikah dengan orang Turki agar dapat menghajar suaminya habis-habisan dan akhirnya suaminya kabur ke KBRI untuk minta perlindungan dari orang Indonesia yang bernama Nur. J (red, galak banget ).

Walaupun demikian ada pula beberapa pasangan Indonesia-Turki dapat hidup berdampingan dengan damai. Pada umumnya mereka sudah siap menghadapi cultur shock dan segala  kemugkinan terburuk yang dapat terjadi. Seperti kata Ibu Susilamiati Dogan pada Buletin PPI Turki 02/08/2001, Kenali dan ketahui betul calon suami, jangan sampai berstatus DKI (Dibawah Ketiak Ibu). Payah kan nantinya, kalau setiap ada masalah dan keputusan selalu kembali ke Ibunya. Berabelah!!!. Ibu Susilamiati juga menyarankan masyarakat Indonesia agar aktif dalam pertemuan masyarkat di Istanbul yang dibina KBRI untuk dapat saling  bertukar pengalaman. Memang kasus yang terjadi lebih banyak karena kurangnya pergaulan.

Pemberitaan pada kedua media pers tersebut telah memancing kritik dari  pihak istri yang telah disamarkan namanya menjadi Evi. Walaupun nama telah disamarkan, Evi mengaku keluarganya merasa terganggu akibat pemberitaan tersebut. Hal ini terjadi karena pemberitaan yang diekspose oleh pihak pengacaranya tersebut ikut memuat foto dan keterangan keluarga secara detail sehingga  membuat orang tahu jati dirinya sebenarnya.   Akibatnya banyak anggota keluarga dan teman-teman Evi menilpun untuk menanyakan bagaimana kasus tersebut dapat terjadi.

Pada penerbitan edisi kali ini buletin PPI akan menampilkankronologi cerita kasus tersebut secara langsung dari sumbernya. Buletin PPI yakin  cerita tersebut adalah cerita yang belum terjamah yang membedakan buletin PPI berbeda dengan berita media pers  serupa yang terbit di tanah air.

Rizandy Alwi

Mahasiswa jurusan T. Komputer, Universitas Hacattepe.