Make your own free website on Tripod.com

Edisi 3
Interview

Home

Daftar Isi
Redaksi
Berita Utama
Lanjutan Berita
Artikel 1
Artikel 2
Interview
Liputan Khusus
Kesehatan
Humor

Keluarga Kemal Guler     
 

Senyum dan ramah tamahnya membuat setiap orang yang pernah ketemu dengannya  mudah akrab. Itulah pak Kemal, seorang pengusaha Turki yang berhati baik. Pak Kemal mempunyai istri orang Indonesia  yaitu bu Markilah. Pak Kemal adalah importer produksi beraneka ragam kerajinan dari Indonesia. Bisnisnya ini telah ditekuninya selama 3 tahun terhitung sejak tahun 1998. Keahliannya berbicara bahasa Indonesia sangat membantu dalam kelancaran bisnisnya. Ketika saudara Miftah mengunjunginya untuk wawancara di showroom kerajinan Indonesia di Tahtakale, Eminonu (Lokasi pusat barang-barang impor di Istanbul), pak Kemal dengan senang hati meluangkan waktunya. Berikut wawancara dengan pak Kemal:

Pak Kemal adalah pengusaha Turki yang hanya mengimpor kerajinan Indonesia, bagaimana pak Kemal memulai bisnis ini? Mulanya saya pergi ke Indonesia pada tahun 1996. Waktu itu saya hanya ingin mencoba berbisnis karpet. Saya juga pernah ikut pameran-pameran di Indonesia dengan menjual karpet.  Selam 3 tahun yaitu mulai tahun 1996 sampai tahun 1998 usaha karpet saya bisa dibilang berhasil. Namun ketika krisis ekonomi mulai menghantam Indonesia bisnis saya langsung kena efeknya sehingga saya memutuskan menghentikan usaha ini dan kembali ke negara saya, Turki. Kemudian di Turki saya tidak kapok untuk mencoba bisnis lain dengan Indonesia. Saya akhirnya memutuskan untuk mengimpor kerajinan-kerajinan Indonesia. Ternyata usaha ini berhasil dan memang di Turki belum banyak barang-barang kerajinan Indonesia yang sangat unik dan menarik selain juga hasilnya halus dibandingkan dengan barang-barang dari Cina atau negara-negara lain. Waktu saya memulai impor, saya mendatangkan kipas bertuliskan ayat ke Turki dan saya adalah orang  pertama yang mendatangkan serta mengenalkan ke orang-orang Turki kipas tersebut. Kini sudah banyak pengusaha-pengusaha  lain yang mengimpor kipas ayat sehingga total jumlah impor kipas ayat mulai tahun 1999 sampai sekarang mencapai 100 kontainer. Pada masa 3 tahun di Indonesia apa saja yang telah pak Kemal dapatkan sebagai oleh-oleh yang masih bisa dinikmati sampai sekarang? Pada dasarnya saya senang dengan orang Indonesia, mereka umumnya ramah meski sebagian juga bisa jahat. Itu tergantung pada hati masing-masing. Alhamdulillah saya bertemu dengan yang baik dan akhirnya seperti yang kamu ketahui saya beristrikan orang Indonesia, ibu Markilah. Saya menikah dengannya pada tahun 1997 dan saya merasakan kebahagiaan berbagi hidup dengannya. Selain itu saya juga sempat belajar bahasa Indonesia di UI (Universitas Indonesia) tepatnya di tempat kursussannya yaitu BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing). Waktu itu saya sempat heran bahwa saya bisa menyelesaikan kursus hanya 6 bulan sedangkan teman saya dari Jepang belum bisa lulus dalam satu tahun. Mungkin juga ini terbantu oleh bahasa ibu yaitu bahasa Turki saya yang sama dalam huruf dan cara bacanya. Bahasa Indonesia  yang saya kuasai juga sangat bermanfaat bagi usaha saya  sekarang ini. Bahasa Indonesia mendukung dalam setiap kontak bisnis dengan pengusaha-pengusaha Indonessia. Tentunya dengan mengerti bahasa mereka segalanya lebih mudah dilakukan. Selama saya di sana, saya sudah keliling ke pusat-pusat kerajinan khususnya kota-kota di Jawa. Hanya saja saya belum pergi ke Irian Jaya meski di sana sektornya juga menjanjikan. Saya takut dengan cerita orang-orang  bahwa penduduk Irian Jaya doyan orang...

Sekarang pak Kemal kenal dan dikenal oleh hampir semua orang Indonesia yang berada di Turki. Bagaimana keakraban ini dimulai? Ketika saya kembali lagi ke Turki dari Indonesia meski sudah beristrikan bu Markilah, saya tidak langsung memboyongnya ke sini. Waktu itu saya tidak langsung kenal dengan semua orang Indonesia di sini. Perkenalan yang kemudian menjadi persaudaraan kita  mulai secara bertahap yaitu satu persatu dengan pertama kali ketemu dengan pak Diaz Hasibuan (sekarang menjabat sebagai staf  lokal di bidang ekonomi di KBRI-Ankara). Kemudian saya bertemu dengan para mahasiswa di Istanbul dan akhirnya dengan mereka kita saling menjaga hubungan kekeluargaan sehingga orang-orang yang tadinya saya belum kenal mereka kenalkan ke saya. Saya sangat senang dengan kekeluargaan ini sehingga ketika istri saya datang ke Turki dia tidak menghadapi masalah-masalah yang serius. Dia terbantu dalam adaptasi sehingga rasa kangen dengan tanah air pun bisa terobati.

Apa kesan pak Kemal terhadap masyarakat Indonesia di Turki? Sungguh, saya menganggap mereka seperti saudara kandung saya sendiri. Saya senang sekali ketika para mahasiswa datang dan menginap di rumah saya. Kalau mereka lama tidak muncul akan saya marahi, saya akan bilang bahwa mereka tidak sayang lagi dengan saya. Meski saya mempunyai kultur dan adat kebiasaan sendiri, saya sangat menghargai kultur dan adat orang Indonesia. Bagi saya, menilai sebuah kultur harus dengan kultur itu sendiri. Jadi saya tidak mengatakan kultur saya adalah yang paling baik diantara kultur-kultur bangsa lain. Karenanya saya tidak punya masalah ketika berkumpul dengan orang Indonesia, malah  terkadang sayalah yang terbawa dengan kebiasaan mereka dan saya senang itu, seperti makan dengan tangan. Menurut pandangan bangsa-bangsa lain termasuk bangsa Turki, makan dengan tangan menunjukkan sifat uncivilized , tapi saya berpandangan lain bahwa gaya tersebut adalah sunnah Rasul kalau dilakukan dengan rapi dan saya sendiri merasakannya lebih lezzaaat  lhooo...

Kembali ke bisnis pak Kemal. Pada bulan-bulan terakhir ini Turki sedang mengalami krisis moneter, bagaimana hubungannya dengan bisnis pak Kemal? Tidak hanya saya sendiri melainkan semua orang Turki mengeluh dengan krisis sekarang ini. Dengan inflasi yang gila-gilaan di Turki mata uang asing meroket khususnya US dolar. Akibatnya pasar jadi lesu. Sebelumnya kita sudah biasa dalam bisnis menghitung dengan dolar  dan sekarang pembeli drastis berkurang. Bisnis saya juga ikutan melemah. Dulu saya bisa mengimpor dari Indonesia satu kontainer dalam sebulan tapi akhir-akhir ini saya hanya bisa menerima pengiriman satu kontainer dalam 3 sampai 4 bulan. Kesulitan saya adalah para exporter Indonesia gampang menaikkan harga. Di samping showroon saya ada beberapa showroom barang-barang dari Cina. Meski krisis, pengiriman tetap berjalan lancar  karena memang harganya masih bisa terjangkau. Kalau orang Indonesia  sih penginnya cepet kaya, tapi kalau begitu bisnis gak bisa lama. Seharusnya kita dalam berbisnis itu menaruh laba sedikit tapi kontinu. Nabi kita adalah seorang pedagang dan sukses dalam berjualannya karena konsepnya seperti itu. Lucunya, yang meniru kok malah orang-orang Cina dan orang-orang Islam malah mengabaikannya.

Apa harapan pak Kemal dalam usaha menjaga kelangsungan hubungan bisnis dengan Indonesia?Saya masih tetap senang berbisnis dengan Indonesia. Saya sampai sekarang tidak mendatangkan barang produksi dari negara lain selain Indonesia, artinya saya hanya menspesialisasikan bisnis saya dengan Indonesia. Tentunya dalam berbisnis kepercayaan adalah hal yang paling mendasar, di sini saya mengharapkan pihak kedutaan Indonesia di Ankara untuk menjelaskan kepada pengusaha-pengusaha Indonesia yang ingin berbisnis di Turki tentang saya dan bisnis saya. Saya juga berharap ada perusahaan Indonesia yang ingin melakukan investasi di Turki dan ketika itu saya siap menjadi cabangnya, dengan demikian harga barang bisa dikendalikan. Namun ketika antara pengusahabelum saling mengenal maka kepercayaan pun kurang bisa terbina dan akhirnya harapan cepet kaya akan menjadi motif bisnisnya.

Miftahus Surur

Mahasiswa Sejarah, Universitas Bogazici