Make your own free website on Tripod.com

Edisi 7
Pendidikan 2

Home

Daftar Isi
Editorial
Berita Utama
Artikel 1
Artikel 2
Profil
Pendidikan 2
Kesehatan
Liputan Khusus
Humor
Suplemen

Self Compacting Concrete
 

Self compacting concrete (SCC) adalah suatu jenis beton baru baru yang dalam keadaan fresh(1) mampu  mengalir memenuhi seluruh pojok cetakan karena berat sendiri dan sifat kohesif yang dimilikinya.

Sejak ditemukan tahun 1988, teknologi ini telah diaplikasikan dan dikembangkan terutama di Jepang untuk pembangunan konstruksi dan berstruktur kompleks seperti jembatan dan bangunan bertingkat tinggi.Berbeda dengan  beton konvesional, SCC  tidak memerlukan proses vibrasi untuk proses konsolidasi adukan beton pada cetakan.

Dengan kata lain SCC meningkatkan kemampuan kerja pada pekerjaan kontruksi. Beberapa keuntungan pemakaian SCC antara lain: Mempercepat pekerjaan konstruksi. - Mereduksi penggunakan jumlah tenaga kerja pada pekerjaan konstruksi. - Menjamin hasil pekerjaan pengecoran dengan baik. - Mereduksi polusi suara yang ditimbulkan oleh penggunaan beton konvensional. 

Kemampuan untuk mengadakan konsolidasi sendiri pada SCC disebakan oleh kemampuan pengaliran dan ketahanan terhadap segregasi(2)  pada SCC yang dimungkinkan dengan penggunaan sedikit kerikil, superplatizizer(3)  dan mengurangi perbandingan pengunaan air dan powder(4).

Kemampuan pengaliran SCC adalah kemampuan adukan beton untuk mampu mengisi sempurna cetakan dan mengalir melewati rongga-rongga kecil atau celah antara kerangka tulangan beton. Pengurangan penggunaan jumlah kerikil terbukti mengurangi jumlah tenaga yang dibutuhkan untuk mengalirkan partikel-partikel beton tersebut. Sebagai contohnya, penggunaan kerikil halus (<4 mm) yang dapat meningkatkan jarak antar partikel sehingga dapat mengurangi kemungkinan terjadinya gesekan antar partikel sehingga akan mempermudahkan pengaliran adukan.

Ketika air dibutuhkan untuk meningkatkan daya pengaliran pada adukan beton, kekuatan beton dan ketahanan beton terhadap segregasi menjadi terancam. Untuk mengatasi kebutuhan air ini digunakan bahan Superplastisizer.  Peningkatan jumlah penggunaan powder dan filler terbukti juga dapat meningkatkan kohesifitas beton.

Rheology adalah dasar ilmu untuk mempelajari SCC karena Rheology adalah ilmu mengenai pengaliran.Rheology beton dalam keadaan fresh sering digambarkan dalam Birham Model. Menurut Birham model, adukan beton harus melewati batas tegangan geser sebelum adukan tersebut dalam mengalir. Kenaikan tegangan geser yang linear dengan kecepatan regang didefinisikan sebagai viscosity(5) .Yang menjadi target dalam Rheology SCC disini adalah bagaimana menurunkan nilai batas tegangan geser serendah mungkin seperti tegangan geser yang dimiliki oleh Newtonian Fluid(6). Target lainnya adalah memodifikasi nilai viscocity ke nilai yang diiinginkan.

Pengukuran Rheodology di laboratorium SCC dilakukan dengan Mesin Rheometer(7). Walaupun mesin ini akurat untuk mengukur derajat viscosity tetapi karena selain harga yang mahal, besar dan berat mesin ini jarang dipakai di lapangan.

Salah satu test yang sering digunakan untuk memberikan gambaran kemampuan pengaliran pada SCC adala Test J-Ring karena selain sangat mudah dan murah, test ini tidak membutuhkan keahlian khusus.

Pada test J-Ring, pengukuran kemampuan pengaliran SCC dilakukan dengan cara mengukur kemampuan penyebaran adukan dengan atau tanpa J-Ring. Pada test ini akan diukur diameter penyebaran dan kecepatan pengalirannya melalui celah-celah antar tulangan beton.

Dari hasil test kekuatan beton diperoleh diperoleh hasil bahwa kekuatan beton SCC sama dengan Beton Konvensional asalkan pengerjaan Beton Konvensional dikerjakan dengan baik.

Heru A.C.MS. studentMaterials of Construction DivisionMiddle East Technical University

Catatan Kaki: (1)Fresh: Periode waktu dari selesai adukan dibuat yang sampai adukan tersebut memperoleh kekakuan (15 menit). (2)Segregasi: adalah proses pemisahan aggregate kasar dengan adukan beton karena gaya gravitasi berat sendiri partikel-partikel beton turun ke bagian bawah badan beton, atau akibat Bleeding, yaitu peristiwa naiknya air mixture ke permukaan beton akibat ketidakmampuan partikel-partikel beton untuk mengikat partikel air tetap berada pada posisinya. (3)Superplatisizer: adalah bahan campuran yang digunakan untuk mengurangi jumlah kebutuhan air lebih dari 12% (High Water Reducer Admixture). Tipe baru Superplatisizer yang telah dipergunakan di lapangan adalah Polycarboxilated Polyether. (4)Powder: bahan yang mengandung cementitious material seperti Portland Cement (PC), Fly Ash dan Pozolan. Cementitious Material adalah bahan yang bila dicampur dengan air akan mempunyai daya rekat dan akan mengeras dalam jangka waktu tertentu (15 menit). Berbeda dengan Cementitious material, Fly Ash dan Pozolan bukan termasuk ke dalam Cementitious Material tetapi kedua bahan tersebut akan berubah menjadi bersifat  Cementitious Material bila dicampur dengan Cementitous Material (PC) dalam kelembapan tertentu. (5)Viscosity: adalah faktor ketahanan mengalir pada cairan. Superplatisizer: bahan campuran  yang dapat mereduksi kebutuhan air pada beton dan bersifat menambah jangka waktu plastis (mudah dibentuk) yang pada SCC ( 90 menit). (6)Fluid: cairan yang mengalir karena gaya gravitasi Newton, mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah seperti halnya air.  (7)Rheometer adalah mesin yang dapat mengukur darah berlakunya tegangan geser dan memonitor besarnya energi untuk mempertahankan besarnya kecepatan regangan pada suatu cairan.