Make your own free website on Tripod.com

Edisi 6
Artikel

Home

Daftar Isi
Redaksi
Artikel
Liputan Khusus 1
Liputan Khusus 2
Pendidikan
Suplemen
Kesehatan
Humor

kubah.jpg

 

Mesjid Suleymaniye Sebagai Lambang Kejayaan Kesultanan Ottoman

 

Zaman keemasan Kesultanan Ottoman berlangsung selama lima puluh tahun pada abad ke-16 yang ditandai oleh perjanjian antara Raja Charles V dari Eropa dengan Sultan Suleymaniye.Dalam perjanjian yang dikenal sebagai 1548 Treaty,Kesultanan Ottoman diakui kekuasaannya oleh Raja Charles V yang merupakan raja paling berkuasa di Eropa saat itu dengan menyebut Suleyman sebagai Suleyman yang Agung.Setelah itu,Suleyman memerintahkan pembangunan mesjid agung untuk melambangkan kekuasaannya.Mesjid agung itu kemudian dikenal dengan nama Mesjid Suleyman atau Suleymaniye.

Suleymaniye dirancang oleh seorang arsitek bernama Sinan yang lahir dari sebuah keluarga non-Muslim yang kemudian menganut agama Islam. Pembangunan mesjid ini selesai pada tahun 1557.Mesjid ini menjadi pusat penting Kesultanan Ottoman sebab Kesultanan Ottoman merupakan salah satu kekuatan terhebat di dunia.Alasan lainnya disebabkan karena Suleymaniye terletak di tempat yang merupakan kota Kristen pertama yang didirikan oleh Constantine.

Sebelum memasuki mesjid,terdapat tempat peralihan berupa halaman seluas 2465 meter persegi yang dikelilingi 28 paviliun berkubah.Pada setiap sudut halaman terdapat empat menara, 2 buah setinggi 50 meter dan dua buah lainnya setinggi 70 meter.Banyaknya menara-menara menandakan bahwa ini mesjid  merupakan mesjid Sultan atau mesjid Kerajaan.Seperti kebiasaan umat Islam yang menyucikan diri sebelum bersembahyang,di halaman tersebut juga terdapat sumber air yang berasal dari Laut Hitam.

Setelah melewati halaman itu,kemegahan mesjid yang memiliki denah lantai berbentuk persegi panjang sebesar 63X69meter dapat dilihat.Ruang ini ditutup oleh sebuah kubah besar dengan diameter 26meter dan ketinggiannya dari tanah adalah 53meter.Pada sisi kubah ini terdapat 32buah jendela untuk meringankan beban kubah dan disangga oleh empat tiang besar untuk menyalurkan beban kubah ke tanah.

Sistem struktur pada Suleymaniye berbeda dengan Hagia Sophia.Pada Suleymaniye tidak ada satupun tembok yang berperan sebagai penopang kubah sebab empat tiang besar telah menjalankan fungsi tersebut.Oleh karena itu,pada dinding Suleymaniye dapat dibuat perforasi atau jendela sebanyak-banyaknya tanpa mengurangi kekuatan struktural bangunannya.Suasana yang diciptakan pun menjadi lebih terang dan ringan.Pada Hagia Sophia,tiang-tiang penopang yang terlalu besar tidak disembunyikan sedangkan pada Suleymaniye tiang-tiang tersebut disembunyikan dengan membuat galeri palsu yang tidak dapat dimasuki atau digunakan oleh siapapun.

Suleymaniye didirikan diatas daerah yang datar dan dibangun sedemikian rupa sehingga tampak seperti gunung atau piramida.Pada dinding galeri palsu terdapat keran-keran air untuk menyucikan diri dengan maksud bahwa air tersebut berasal dari sebuah monumen suci.Terdapat pula daerah dan ruangan-ruangan yang tidak dapat dilewati dengan alasan keagamaan.

Interior Suleymaniye dihiasi dengan berbagai macam ornamen termasuk ukiran,kaligrafi dan kaca berwarna pada jendela-jendelanya.Tiang-tiang penyangga diartikulasikan untuk mengurangi kesan raksasa dan menciptakan kesan plastis.Mihrab terbuat dari marmer terbaik dan dihiasi oleh muqarnas.Kaligrafi terdapat pada bagian dalam kubah dan struktur-struktur transisi.Kaca warna-warni menyalurkan cahaya dari luar ke dalam,memberikan kesan mistik kepada bangunan itu.Jendela-jendela pada lantai dasar lebih besar ukurannya jika dibanding dengan jendela-jendela diatasnya untuk memberikan kontak visual yang tidak terputus dari luar ke dalam.

Ubin Iznik yang menghiasi tembok mohrab,mimbar sederhana yang terukir dari lapisan marmer yang utuh menunjukkan ciri khas Sinan yang mampu menciptakan keserasian antar unsur-unsur tersebut.Untuk menghasilkan kualitas suara yang baik di dalam mesjid, dikuburlah 64 kendi yang terbuat dari tanah.Oleh karena itu intensitas suara sekecil apapun dapat terdengar di seluruh sudut mesjid.

Kemajuan yang dicapai oleh Mesjid Suleymaniye sangat mempengaruhi teknologi pembangunan mesjid-mesjid lainnya pada zaman Ottoman.Namun kejayaan arsitektur Ottoman tidak dapat diraih kembali seperti yang dicapai oleh Sinan dengan Suleymaniyenya sehingga Suleymaniye sangat pantas dijadikan salah satu bukti kejayaan Kesultanan Ottoman.

Karina Prawita Rini, Mahasiswi Fakultas Arsitektur

Middle East Technical University