Make your own free website on Tripod.com

Edisi 6
Pendidikan

Home

Daftar Isi
Redaksi
Artikel
Liputan Khusus 1
Liputan Khusus 2
Pendidikan
Suplemen
Kesehatan
Humor

sulama.jpg
" SULAMA LULUS "
 

Menyusul Mbak Ratih yang telah lulus sebelumnya, teman satu kita ini membuat kejutan, Sulama  Karta Ijaya alias Pade telah di wisuda. Terlahir tanggal 13 September 1974 di Surakarta Hadiningrat, pria yang tampangnya mirip aktor Andy Garcia (Actor dlm film Ocean Elevent) ini mengaku bisa membuktikan dirinya Lulus ditengah nada miring keseriusannya menempuh gelar sarjana S1.

Gelar sarjananya, jurusan sosiologi lulusan Universitas Mimar Sinan yang diwisuda pada tanggal 5 Juli 2002, merupakan hasil kerja Mandiri (membiayai sekolah dengan biaya sendiri). Menurut Drs. Sulama setelah beasiswa dari yayasan Yenbu terputus, dirinya mengaku sempat dikirimi uang beberapa kali oleh orang tuanya untuk biaya kuliah sampai pada suatu ketika dirinya tergugah untuk mandiri dengan tidak menggantungkan biaya hidup dari kedua orangtuanya lagi.

Menjadi mahasiswa mandiri merupakan nilai tambah. Berbeda dengan mahasiswa yang dibiayai oleh orangtuanya, perjuangan mencari penghasilan sambil belajar merupakan pendidikan yang tidak diproleh di bangku perkuliahan. Manajemen bagaimana membagi waktu, menjaga hubungan baik, mengatur keuangan, kemampuan melobi, berorganisasi dan lain sebagainya adalah tantangan mengasikkan. Orang sukses adalah orang yang mampu merubah setiap tantangan menjadi kesempatan, betul nggak? Jadi wajar bila mahasiwa  yang mendapat beasiswa atau dibiayai oleh orangtuanya mempunyai banyak waktu untuk belajar daripada mereka yang kuliah sambil bekerja. Walaupun hal tersebut tergantung pada orangnya juga. Ada yang dibiayai orangtuanya tapi malas-malasan atau sebaliknya dengan hidup mandiri bertambah pintar karena dapat mengaplikasikan ilmunyanya dalam pekerjaan.  

Seperti Mas Sulama, sdr. Miftahpun kini sedang bekutat sedang mencari judul buat skripsinya untuk dapat disetujui oleh advisornya. Di universitas unggulan tempat sdr. Miftah belajar seperti Universitas Bogazici, Istanbul, standar kelulusannya sangat tinggi. Beberapa alumni universitas Bogazici mengatakan bahwa untuk mendapatkan nilai A di universitas tidak ternama di AS jauh lebih mudah daripada mendapatkan nilai A di universitas Bogazici. Hal ini dibenarkan Sdr. Heru yang mengutip senior-seniornya yg mengambil program S2 di AS lulusan dari Universitas Middle East Technical University Ankara, dimana Bpk. Komarudin Hidayat dan Amien Abdullah menjadi alumninya. Seperti AS, Turki juga menjadi negara tujuan pencari pendidikan tinggi dari negara Timur Tengah dan sekitarnya.  

Jadi wajar kiranya bila tokoh-tokoh penting internasional di Istanbul seperti Bill Clinton lebih berkenan datang ke universitas ternama Bogazici dari pada universitas lainnya seperti universitas Marmara, Yildiz atau Istanbul University. Bahkan terkadang jurusan ilmu pasti, seperti jurusan Matematika universitas Marmara memberikan ujian perbaikan yang sama soalnya dengan soal ujian sebelumnya. Tinggal pilih ingin mencari ilmu atau sekedar kelulusan yang dijadikan standar kepandaian seseorang.

Menjadi pekerja serabutan memang membutuhkan keahlian membagi waktu dengan jadwal belajar. Dalam pekerjaannya menemani tamu-tamu Indonesia yang berkunjung ke Turki, dalam waktu senggangnya menunggu tamu di Airport sdr. Sulama selalu menyediakan waktu  untuk mengulang membaca buku pelajaran. Menurutnya kapan saja, dimana saja tidak mengenal tempat kalau ada waktu bengong berarti ada waktu untuk belajar.

Bersama Mas Miftah, Mbak Ratih, Mbak Ade Hasibuan, Mas Sulama termasuk angkatan kedua yang bertahan saat itu untuk melanjutkan studi dari 15 mahasiswa Indonesia yang ditelantarkan oleh yayasan Yenbu, yang sebagian besar pulang kembali ke tanah air karena ketidakjelasan beasiswa mereka. Mereka pernah mengalami suka duka ketika harus bertanggung jawab membayar biaya overstay karena pihak yayasan tidak mengurusi identitas mereka. Untungnya mereka mendapat bantuan KBRI yang berhasil menekan pihak yayasan.

Pekerjaan untuk menemani tugas pejabat atau tokoh penting Indonesia di Istanbul merupakan pengalaman tersendiri bagi Mas Sulama. Bahkan teman kita yang satu inilah yang luput dari gosip kalangan selebrities. Mas Sulamalah yang sebenarnya menjadi penyebab utama putusnya hubungan Maudy Kusnadi dengan Gilang Ramadhan. Rembulan Istanbul menjadi saksi bisu. Rambut Mas Sulama yang kala itu masih gondrong, dipuji Maudy, yang mengingatkannya pada budayawan Emha Ainun Najib, Kyai Mbeling. Maklum sebelumnya Mas Sulama sempat belajar di universitas Al Azhar, Cairo sebelum ke Turki. Mungkin kalau saat itu diteruskan kuliah di mesirnya Mas Sulama bisa setenar pendakwah AA Gym.

Ditanya mengenai yang satu itu, Mas Sulama mengaku bahwa dirinya punya teman banyak teman wanita Turki tetapi belum mengistimewakan salah satunya, sambil tersenyum penuh teka-teki. Pesan-pesannya kepada yang masih kerja rodi, giat-giatlah belajar dengan tekun supaya cepat selesai sekolahnya dan jangan saling menjelekkan sama lainnya untuk kepentingan pribadinya, dipandang lebih alim, pintar, rajin atau sebagainya. All for one, ujar Mas Sulama. ( Ya Mbah J).  

Mas Sulama menambahkan bahwa kuliah sambil mencari penghasilan sendiri mendatangkan nilai-nilai kemandirian bahwannya masa depan ditentukan bagaimana cara mengolah hidup kita sekarang ini. Bayangkan menjadi pelajar asing yang mandiri harus mengurusi segala keperluan seperti listrik, air, sabun mandi, izin tinggal tetek bengek lainnya sendiri, ujar Mas Sulama.

Untuk rencana kedepannya Mas Sulama berencana menjajaki kemungkinan untuk meneruskan sekolah program S2nya sambil mencari peluang bekerja yang lebih baik.

Lebih jauh Sulama berterima kasih kepada Keluarga Besar KBRI Ankara yang telah memperhatikan nasib pelajar-pelajar Indonesia di Turki selama ini terutama hubungan baik yang telah dibina dengan mesra melalui wadah PPI-Turki dan KBRI Ankara. Mas Sulama mengharapkan hubungan yang harmonis tersebut dapat terus berlanjut.

Rizal Rachmat, Mahasiswa Jurusan Elektro, Universitas Uludag Bursa