Make your own free website on Tripod.com

Edisi 2
Suplemen 2

Home

Daftar Isi
Redaksi
Berita Utama
Artikel
Interview
Kesehatan
Suplemen 1
Suplemen 2
Humor

Resensi Film :
The Year of Living Dangerously

film.jpg

The Year of Living  Dangerously, walaupun terhitung film buatan tahun 1983, redaksi buletin  PPI   yakin  bahwa   banyak  pemirsaperfileman Indonesia yang belum pernah menyaksikan film tersebut Hal ini dapat dimaklumi karena film yang mengangkat cerita dari novel karya Christopher Koch baru diizinkan unttuk dapat diputar di Indonesia pada tanggal 18 Juni 2001 di Jakarta Internasional Film Festival (JiFFest) setelah dilarang untuk diputar pada masa orde baru.. Ketua panitia penyelenggara festival, Shanty Harmayin menyatakan bahwa pihaknya tidak akan melakukan sensor terhadap film tersebut. Shanty menyatakan bahwa film tersebut merupakan bagian dari perspektif dunia luar terhadap Indonesia. Lebih jauh Ia menyatakan bahwa pemutaran film-film seperti The Year of Living  Dangerously merupakan bagian dari tujuan diadakannya festival yakni menghormati kebebasan berpendapat dan berekspresi.  

Film yang penyutradaraannya digarap oleh Peter Weir yang sukses dalam film Dead Poets Society dan The Truman Show mendapat larangan masuk Indonesia pada zaman pemerintahan Presiden Suharto. Dengan mengangkat cerita mengenai seputar pergolakan politik di tahun 1965, yaitu seputar kejatuhan mantan Presiden Sukarno dan naiknya mantan Presiden Suharto ketampuk kekuasaan, film ini berusaha berdiskusi politik secara jujur dan tidak mencoba memberikan jawaban. Film yang dibintangi peraih piala Oscar, Mel Gibson dan Sigourney Weaver tersebut menampilkan gambaran penindasan, kemiskinan dan pembunuhan akibat pergolakan politik Indonesia yang terjadi pada saat itu.  

Film yang duapertiga setting gambarnya diambil di Filipina tersebut, banyak mendapat ancaman dan teror untuk menghentikan proses pembuatan film. Para peneror menganggap bahwa film tersebut merupakan bagian dari propaganda Imperialisme dan anti muslim.

Secara garis besar film yang soundtracknya digarap oleh peraih Academy Award, Maurice Jarre, yang juga menulis untuk sound track Ghost, The Message, Dr. Zhivago dan banyak lagi film lainnyat, digarap dengan cukup menarik. Bukan saja dari soundtrack filmnya,  tetapi juga dari kekuatan scene-gambarnya,  mampu membawa penonton ke situasi Jakarta di tahun 65-an.  Yang patut dipuji dari film tersebut adalah diikutkannya falsafah dan seni budaya Jawa Wayang dalam membangun cerita film tersebut. Berbicara kepada Guy Hamilton (Mel Gibson), Billy  Kwan. (Linda Hunt), tokoh sentris dalam film tersebut menekankan perlunya memahami falsafah Jawa untuk dapat mengerti sikap dan cara berpikir bangsa Indonesia. Sambil membawa wayang Rahwana, Kwan mengatakan Tidak seperti orang Eropa yang menganggap yang salah adalah salah dan yang benar adalah benar, dalam falsafah Jawa, seorang berkarakter jahat sekalipun dinilai mempunyai sisi-sisi kebaikan di dalamnya. Kebaikan dan kejahatan selalu ada sebagai suatu keseimbangan, lanjut Kwan.

The Year of Living Dangerously, film yang menggabungkan kisah romantik, persahabatan dan petualangan yang dilatar belakangi oleh kisah sejarah,  adalah sebuah film yang layak ditonton. Cerita dalam film ini mampu membuat penonton ingin tahu akhir cerita. Seperti apa yang diucapkan Billy Kwan ditengah keterputus asaannya mengakhiri penderitaan bangsanya hidup dalam kelaparan karena konflik politik pada tahun 65, sambil menangis Ia bertanya kepada diri sendiri,  What can we do?.  . Dan tentunya ini sedikit relevan dengan keadaan politik saat ini, terlepas dari keobjektifan film ini memandang Indonesia. Yang kurang berkenan dalam fim ini adalah pengammbaran sosok mantan presiden Sukarno yang nampak jauh berbeda dengan aslinya.

Mengambil latar belakang cerita tahun 1965 saat sebelum tergulingnya mantan Presiden Sukarno, film ini bercerita mengenai wartawan Australia, Guy Hamilton (Mel Gibson) yang mendapat tugas ke Jakarta untuk meliput berita mengenai keadaan Indonesia saat itu. Ditemani partner kerjanya seorang fotographer berkebangsaan Indonesia, Billy Kwan (Linda Hunt), Hamilton mencoba mendapatkan berita ekslusif. Billy Kwan yang sangat mencintai bangsanya sangat berharap kemunculan Hamilton sebagai orang yang dinantikan untuk dapat menceritakan penderitaan rakyatnya.

Melalui koneksi-koneksi Kwan, Hamilton dibantu untuk mendapatkan interview pejabat penting dan berita eklusif.  Melalui Kwan juga, Hamilton dapat berkenalan dengan Jill Bryant (Sigourney Weaver), staff atase pertahanan Kedutaan Kerajaan Inggris. Hamilton yang jatuh cinta, mencoba mendekati Bryant, walaupun Bryant akan meninggalkan Indonesia karena berakhir masa tugasnya.

Tanpa sengaja Bryant yang sedang menjalin kisah kasih asmara dengan Hamilton memberitahukan mengenai suatu berita yang sangat eklusif dan rahasia, bahwa PKI sedang menantikan pengiriman senjata lewat laut untuk mengadakan kudeta. Kwan mengingatkan Hamilton untuk tidak menghianati kepercayaan yang diberikan Bryant. Tetapi karena ambisius, Hamilton berusaha mendapatkan berita dari konfirmasi pihak-pihak yang independen.

Lewat beberapa kejadian dan peristiwa, Kwan merasa dirinya dikhianati oleh semua orang; keluarga, teman-teman dan pemimpin yang dicintainya. Keputusa asaan Kwan menyebabkan Ia  memutuskan melakukan sesuatu yang berbahaya yang dapat memberi arti bagi hidupnya.  Tindakan yang dilakukan Kwan memberikan makna bagi Hamilton mengenai apa yang selama ini Kwan perjuangkan, yaitu gambaran yang tengah terjadi di Indonesia.

Mel Gibson-Guy Hamilton; Linda Hunt-Billy Kwan; Sigourney Weaver-Jill Bryant; Michael Murphy-Pete Curtis; Bill Ker-Colonel Henderson; Noel Ferrier-Wally OSulivan; Directed by Peter Weir, Produced by Jim McElroy; Screenplay by David Williamson, Peter Weir CJ. Koch

Heru Ari Christianto

Mahasiswa Program S2 Teknik Sipil, Middle East Technical University